Bertahan atau Tertinggal: Saatnya Pendidikan Islam Melakukan Upgrade Oleh : SYAKIR DAULAY (Direktur SMP IT Al Farabi Bilingual School) Perubahan adalah sesuatu yang tidak pernah meminta izin kepada siapa pun. Ia datang perlahan, lalu bergerak semakin cepat hingga sering kali membuat banyak pihak tersadar ketika jarak ketertinggalan sudah terlalu jauh. Dunia pendidikan termasuk salah satu bidang yang paling merasakan dampak perubahan tersebut. Cara belajar, cara mengajar, sumber informasi, bahkan cara anak-anak memahami dunia mengalami perubahan yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir. Dalam situasi seperti ini, pendidikan Islam menghadapi tantangan yang tidak ringan: bagaimana menjaga nilai-nilai yang diwariskan selama ini sambil tetap mampu menjawab kebutuhan zaman.Selama bertahun-tahun, pendidikan Islam telah menjadi rumah bagi pembentukan karakter dan akhlak generasi muda. Banyak orang tua mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada sekolah Islam, madrasah, maupun pesantren karena berharap anak-anak mereka tumbuh bukan hanya dengan kecerdasan akademik, tetapi juga dengan fondasi moral yang kuat. Kepercayaan itu tidak muncul begitu saja. Pendidikan Islam telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk manusia yang memiliki adab, spiritualitas, dan kepedulian sosial.Namun keadaan hari ini berbeda dengan masa lalu. Generasi yang sedang duduk di bangku sekolah saat ini lahir dalam lingkungan yang dipenuhi teknologi. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, video singkat, dan informasi yang tersedia hanya dalam hitungan detik. Dulu seorang anak harus membuka buku untuk menemukan jawaban. Hari ini mereka cukup mengetik beberapa kata di layar telepon genggam. Perubahan tersebut tentu memengaruhi cara mereka berpikir, belajar, dan memahami sesuatu.Di tengah kondisi itu, pendidikan Islam tidak cukup hanya mengandalkan cara lama untuk menghadapi tantangan baru. Bukan karena cara lama sepenuhnya salah, tetapi karena setiap zaman memiliki kebutuhan yang berbeda. Metode yang berhasil diterapkan pada generasi sebelumnya belum tentu dapat menghasilkan dampak yang sama pada generasi saat ini. Karena itu, pendidikan Islam membutuhkan pembaruan agar tetap mampu berbicara dengan bahasa yang dipahami oleh generasi sekarang.Sayangnya, kata “upgrade” atau pembaruan kadang dipahami secara keliru. Sebagian orang menganggap bahwa pembaruan berarti meninggalkan tradisi, mengurangi nilai agama, atau mengikuti perkembangan zaman secara berlebihan. Padahal bukan itu yang dimaksud. Upgrade dalam pendidikan Islam bukanlah mengganti fondasi yang sudah kuat. Upgrade berarti memperkuat fondasi tersebut dengan cara yang lebih relevan. Nilai Islam pada dasarnya tidak pernah usang. Kejujuran tidak pernah menjadi nilai yang kedaluwarsa. Tanggung jawab tidak pernah kehilangan maknanya. Disiplin, amanah, kerja keras, dan rasa hormat kepada sesama akan tetap dibutuhkan kapan pun dan di mana pun manusia hidup. Yang berubah bukan nilainya, melainkan cara menyampaikannya kepada generasi baru.Di banyak tempat, pendidikan Islam sering kali masih dipandang sebatas tempat untuk mempelajari pelajaran agama dan menghafal berbagai materi. Padahal potensi pendidikan Islam jauh lebih besar dari itu. Pendidikan Islam seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi yang mampu memahami agama dengan baik sekaligus siap menghadapi realitas kehidupan modern.Sebagai contoh, banyak sekolah Islam saat ini memiliki program tahfiz Al-Qur’an. Program tersebut merupakan sesuatu yang sangat baik dan perlu terus dikembangkan. Namun muncul pertanyaan yang juga penting untuk dipikirkan: apakah hafalan yang dimiliki siswa berhenti hanya sampai pada kemampuan mengingat ayat? Ataukah ayat-ayat tersebut benar-benar hidup dalam cara berpikir dan perilaku mereka sehari-hari?Seseorang mungkin mampu menghafal banyak ayat tentang pentingnya menjaga waktu, tetapi masih sering menunda pekerjaan. Ada pula yang hafal ayat tentang menjaga hubungan sesama manusia, tetapi masih sulit menghargai temannya sendiri. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan mengingat, tetapi juga perlu menyentuh pemahaman dan pengamalan.Bayangkan jika pembelajaran Al-Qur’an dikembangkan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan siswa. Ketika mempelajari ayat tentang waktu, siswa diajak mengatur jadwal kegiatan mereka. Ketika mempelajari ayat tentang kebersihan, mereka diminta membuat proyek lingkungan. Ketika mempelajari ayat tentang kejujuran, mereka diajak melakukan refleksi terhadap perilaku sehari-hari. Dengan cara seperti ini, Al-Qur’an bukan hanya menjadi sesuatu yang dihafal, tetapi menjadi nilai yang tumbuh dalam kehidupan.Selain itu, pendidikan Islam juga perlu membuka ruang yang lebih luas bagi keterampilan masa depan. Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki nilai akademik tinggi. Dunia juga membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, menyelesaikan masalah, dan memahami perkembangan teknologi.Banyak pekerjaan yang ada saat ini mungkin tidak lagi sama beberapa tahun mendatang. Sebaliknya, akan muncul berbagai bidang baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Karena itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan. Pendidikan Islam memiliki kesempatan besar untuk menggabungkan keterampilan tersebut dengan nilai-nilai agama sehingga lahir generasi yang cerdas sekaligus berakhlak.Guru juga memiliki peran penting dalam proses perubahan ini. Di masa lalu, guru sering menjadi satu-satunya sumber ilmu bagi siswa. Hari ini keadaannya berbeda. Informasi dapat ditemukan hampir di mana saja. Karena itu, peran guru berkembang menjadi pembimbing, pengarah, dan teladan yang membantu siswa menggunakan informasi secara bijaksana.Pembaruan pendidikan Islam juga perlu menyentuh suasana belajar. Kelas tidak harus selalu identik dengan mendengar dan mencatat. Siswa perlu diberi kesempatan untuk berdiskusi, bertanya, melakukan eksperimen, mengembangkan ide, dan menghasilkan karya nyata. Ketika siswa terlibat secara aktif, mereka tidak hanya belajar untuk mengingat, tetapi juga belajar untuk memahami.Pada akhirnya, pendidikan Islam sebenarnya tidak sedang menghadapi persoalan antara mempertahankan nilai atau mengikuti perkembangan zaman. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Nilai agama dapat tetap berdiri kokoh, sementara cara penyampaiannya dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan generasi.Dunia akan terus bergerak, teknologi akan terus berkembang, dan perubahan akan terus terjadi. Pendidikan Islam memiliki dua pilihan: merasa cukup dengan apa yang sudah ada atau berani melakukan pembaruan tanpa kehilangan identitasnya. Sebab dalam perjalanan zaman yang terus berubah, bertahan saja sering kali tidak lagi cukup. Agar tetap memberi manfaat dan tetap menjadi pilihan, pendidikan Islam perlu terus tumbuh, memperbaiki diri, dan melakukan upgrade. Jika tidak, ketertinggalan bukan lagi kemungkinan, tetapi sesuatu yang perlahan akan menjadi kenyataan.
Keputusan Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat: Benarkah Selalu Demikian?
“Keputusan Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat”: Benarkah Selalu Demikian? Oleh: SYAKIR DAULAY (Direktur SMP IT Al Farabi Bilingual School) Belakangan ini, publik ramai membicarakan polemik penjurian dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Ajang yang menjadi pintu menuju kompetisi nasional tersebut memunculkan perdebatan tentang objektivitas, transparansi, dan integritas dalam penilaian perlombaan akademik. Sebagian masyarakat mempertanyakan konsistensi keputusan juri, sementara sebagian lain memilih menerima hasil dengan alasan klasik yang sudah sangat sering terdengar dalam setiap perlombaan: “keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.”Kalimat itu sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Dalam setiap kompetisi, memang harus ada otoritas yang diberi kewenangan untuk menentukan hasil akhir agar perlombaan berjalan tertib dan tidak dipenuhi perdebatan tanpa ujung. Namun persoalannya, ungkapan tersebut sering kali dipahami secara berlebihan, seolah keputusan juri adalah sesuatu yang sepenuhnya absolut dan tidak boleh dievaluasi dalam kondisi apa pun. Akibatnya, ruang untuk klarifikasi, koreksi, bahkan transparansi menjadi tertutup.Fenomena ini sesungguhnya bukan hanya terjadi dalam satu perlombaan saja. Dalam banyak kompetisi akademik, baik tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, hingga nasional, persoalan integritas penjurian sering menjadi keluhan yang berulang. Ada peserta yang merasa dirugikan, guru pendamping yang kecewa, hingga penonton yang mempertanyakan logika penilaian. Namun semuanya seakan berhenti ketika panitia mengucapkan kalimat pamungkas itu: keputusan juri bersifat mutlak.Di sinilah kita perlu bertanya secara jujur: apakah dunia pendidikan benar-benar sedang membangun budaya sportivitas dan keadilan, atau justru sedang membiasakan peserta didik menerima ketidakjelasan atas nama aturan?Kompetisi akademik pada hakikatnya bukan sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Perlombaan adalah bagian dari proses pendidikan. Di dalamnya ada pembentukan mental, kejujuran, kedisiplinan, penghargaan terhadap usaha, dan pembelajaran tentang bagaimana menerima hasil dengan lapang dada. Akan tetapi, semua nilai luhur itu akan kehilangan makna ketika proses penilaiannya sendiri dipandang tidak transparan dan tidak objektif.Anak-anak dan remaja yang mengikuti lomba bukan hanya membawa nama sekolah. Mereka membawa harapan, semangat, dan hasil dari proses belajar yang panjang. Banyak peserta mempersiapkan diri selama berbulan-bulan. Mereka mengorbankan waktu bermain, berlatih setiap hari, bahkan menghadapi tekanan mental untuk tampil maksimal. Ketika hasil yang mereka terima terasa tidak sesuai dengan proses yang terjadi di lapangan, kekecewaan itu tidak hanya berhenti pada kekalahan. Yang lebih berbahaya adalah tumbuhnya rasa tidak percaya terhadap sistem.Kita mungkin sering menganggap persoalan seperti ini sepele. “Namanya juga lomba,” begitu kata sebagian orang. Namun dalam perspektif pendidikan karakter, pengalaman-pengalaman kecil justru sangat menentukan cara pandang generasi muda terhadap kehidupan. Jika sejak usia sekolah mereka melihat bahwa hasil bisa diperdebatkan tetapi tidak boleh dipertanyakan, maka secara perlahan mereka belajar bahwa transparansi bukan sesuatu yang penting.Lebih jauh lagi, budaya anti kritik dalam penjurian perlombaan juga dapat melahirkan mentalitas feodal dalam dunia pendidikan. Juri diposisikan seolah tidak mungkin salah, sementara peserta hanya dituntut menerima apa pun hasilnya tanpa ruang dialog. Padahal, profesionalisme bukan berarti anti evaluasi. Justru dalam sistem yang sehat, evaluasi adalah bagian dari upaya menjaga kualitas dan kepercayaan publik.Dalam dunia olahraga internasional, penggunaan teknologi seperti VAR dalam sepak bola atau challenge system dalam tenis lahir bukan karena wasit tidak dipercaya, melainkan karena manusia memiliki keterbatasan. Kesalahan bisa terjadi, dan sistem dibuat untuk meminimalisir ketidakadilan. Pertanyaannya, mengapa dunia pendidikan yang selalu berbicara tentang moral dan integritas justru sering tertinggal dalam hal transparansi?Tentu tidak semua kritik terhadap juri benar adanya. Ada juga pihak-pihak yang memang sulit menerima kekalahan dan mencari pembenaran atas hasil yang tidak sesuai harapan. Karena itu, perlombaan tetap membutuhkan aturan yang tegas. Namun ketegasan tidak boleh diartikan sebagai penolakan terhadap evaluasi. Ketika muncul polemik yang meluas dan dipertanyakan publik, penyelenggara seharusnya mampu memberikan penjelasan yang terbuka dan rasional, bukan sekadar berlindung di balik kalimat “keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.”Masalah lain yang juga perlu menjadi perhatian adalah minimnya standar profesional dalam penjurian perlombaan akademik di berbagai daerah. Banyak lomba masih mengandalkan penilaian subjektif tanpa sistem dokumentasi yang memadai. Indikator penilaian sering tidak dijelaskan secara detail kepada peserta. Mekanisme keberatan tidak tersedia. Bahkan dalam beberapa kasus, hasil penilaian tidak pernah benar-benar diperlihatkan secara terbuka. Situasi seperti inilah yang akhirnya melahirkan prasangka dan ketidakpercayaan.Padahal membangun sistem yang lebih profesional sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil. Penyelenggara dapat mulai dengan membuat indikator penilaian yang jelas dan terukur. Nilai peserta dapat ditampilkan secara terbuka. Rekaman video bisa digunakan sebagai bahan evaluasi bila terjadi sengketa. Dewan juri juga perlu diberikan pembekalan tentang etika penjurian dan komunikasi publik agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan kebingungan.Yang paling penting, kita perlu mengubah cara pandang terhadap kritik. Kritik tidak selalu berarti menyerang. Dalam banyak kasus, kritik justru lahir karena masyarakat masih peduli terhadap kualitas pendidikan. Ketika publik diam terhadap ketidakjelasan, itulah tanda yang sebenarnya berbahaya. Sebab ketidakpedulian adalah awal dari matinya integritas.Kita tentu tidak ingin generasi muda tumbuh dengan keyakinan bahwa keberhasilan ditentukan oleh faktor-faktor di luar kemampuan dan kerja keras. Pendidikan seharusnya menjadi ruang paling aman untuk menanamkan nilai keadilan. Sekolah dan kompetisi akademik mestinya menjadi tempat di mana anak-anak belajar bahwa usaha yang jujur akan dihargai secara objektif.Ironisnya, banyak perlombaan justru membawa nama besar karakter, kebangsaan, dan moralitas. Namun nilai-nilai itu terkadang hanya berhenti di slogan. Kita sibuk mengajarkan siswa tentang integritas, tetapi lupa membangun sistem yang benar-benar mencerminkan integritas itu sendiri. Kita berbicara tentang sportivitas, tetapi tidak menyediakan ruang transparansi. Kita mendidik tentang kejujuran, tetapi abai terhadap pentingnya akuntabilitas.Polemik LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat seharusnya menjadi momentum refleksi bersama, bukan sekadar tontonan viral di media sosial. Dunia pendidikan perlu belajar bahwa kepercayaan publik dibangun bukan hanya melalui hasil akhir, tetapi juga melalui proses yang adil dan terbuka. Sebab dalam pendidikan, proses sering kali jauh lebih penting daripada sekadar kemenangan.Pada akhirnya, kalimat “keputusan juri tidak bisa diganggu gugat” memang tetap diperlukan dalam sebuah kompetisi. Namun kalimat itu tidak boleh berubah menjadi alat untuk membungkam pertanyaan dan menolak evaluasi. Juri harus dihormati, tetapi integritas juga harus dijaga. Sebab jika pendidikan kehilangan integritas, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil perlombaan, melainkan masa depan karakter generasi bangsa itu sendiri.
SMP IT Al Farabi Bilingual School Lepaskan Relawan untuk Korban Banjir
Aceh Besar – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat akibat curah hujan tinggi dan meluapnya sungai telah berdampak pada kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menggugah kepedulian SMP IT Al Farabi Bilingual School untuk turut berkontribusi dalam aksi kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Bireuen. Kegiatan kemanusiaan ini diawali dengan sambutan Kepala SMP IT Al Farabi Bilingual School, Ibu Siti Kembang Ati, S. Pd., yang menyampaikan pentingnya menumbuhkan kepedulian sosial dan empati terhadap sesama, khususnya di saat masyarakat menghadapi musibah bencana alam. Dalam sambutannya, beliau juga mengapresiasi partisipasi seluruh warga sekolah yang telah berkontribusi dalam penggalangan bantuan. Selanjutnya, relawan bencana secara resmi dilepaskan oleh Direktur Pendidikan, Bapak Syakir Daulay, sebagai bentuk dukungan dan komitmen lembaga terhadap aksi kemanusiaan. Pelepasan relawan ini menjadi simbol kepercayaan dan tanggung jawab dalam menjalankan misi kemanusiaan ke lokasi terdampak banjir. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, SMP IT Al Farabi Bilingual School melepas relawan bencana dari kalangan guru untuk bertugas menyalurkan bantuan langsung ke lokasi terdampak di Kabupaten Bireuen. Penyaluran bantuan dilakukan oleh relawan guru, sementara bantuan yang diberikan merupakan hasil penggalangan donasi dari seluruh warga sekolah, termasuk partisipasi siswa serta dukungan penuh dari orang tua siswa. Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pokok dan perlengkapan mendesak yang dibutuhkan oleh masyarakat terdampak banjir. Proses penyaluran dilakukan melalui koordinasi dengan pihak terkait agar bantuan dapat diterima secara tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi warga. Kegiatan ini tidak hanya menjadi respon sosial terhadap bencana alam, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter bagi siswa. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk menumbuhkan nilai empati, kepedulian sosial, dan semangat berbagi kepada sesama. SMP IT Al Farabi Bilingual School berharap bantuan yang disalurkan dapat meringankan beban masyarakat terdampak banjir di Bireuen serta menjadi penyemangat bagi warga untuk bangkit dan pulih dari musibah.
SMP IT Al Farabi Bilingual School Kunjungi BGTK Aceh
Aceh Besar, 14 November 2025 – SMP IT Al Farabi Bilingual School melakukan kunjungan resmi ke Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Aceh sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dalam peningkatan mutu pendidikan. Kunjungan ini menjadi salah satu langkah strategis sekolah dalam memperluas jejaring, sekaligus menggali peluang kolaborasi program pengembangan kompetensi guru. Rombongan SMP IT Al Farabi Bilingual School yang dipimpin langsung Direktur Pendidikan Yayasan disambut langsung Kepala BGTK Aceh Beserta Tim. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak berdiskusi tentang berbagai program peningkatan profesionalisme pendidik, termasuk pelatihan berbasis kebutuhan guru, pengembangan komunitas belajar, serta jenjang Karir Guru. Kepala BGTK Aceh Muhammadi, S.Kom., M.Si. beserta Tim mengapresiasi langkah SMP IT Al Farabi Bilingual School yang aktif membangun komunikasi dan membuka ruang kerja sama. Sekolah diharapkan dapat menjadi mitra dalam berbagai kegiatan penguatan kompetensi guru yang turut mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Aceh Besar. “BGTK Aceh sangat mengapresiasi sekolah yang mau bekerja sama dengan kita dalam memajukan karir guru dan tendik yang memang selama ini menjadi tugas dari BGTK, namun kemampuan BGTK untuk meningkatkan kompetensi Guru itu terbatas” Kata Muhammadi dalam paparannya. Sementara itu, Direktur Pendidikan Yayasan Syakir Daulay mengucapkan terima kasih atas sambutan yang luar biasa dari Pihak BGTK Aceh dan berharap kerjasama antara SMP IT Al Farabi Bilingual School dengan BGTK Aceh dapat terlaksana ke depan. “Sambutan yang luar biasa positif dari Kepala BGTK Aceh menjadi semangat bagi kami untuk berkolaborasi dalam meningkatkan mutu guru dan kami berharap kedepannya akan ada kerja sama kolaborasi dalam meningkatkan profesionalisme guru ” kata Syakir Daulay, Direktur Pendidikan Yayasan KKIA. Diskusi dan sharing session berjalan dengan hangat dan penuh kekeluargaan. Melalui kunjungan ini, SMP IT Al Farabi Bilingual School semakin menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, inovatif, serta berorientasi pada perkembangan kompetensi guru dan kebutuhan peserta didik.
Direktorat PPG Kemendikdasmen Kunjungi SMP IT Al Farabi Bilingual School
Aceh Besar, 12 November 2025 — SMP IT Al Farabi Bilingual School mendapat kunjungan dari Direktorat PPG (Pendidikan Profesi Guru) Kemendikdasmen dalam rangka pelaksanaan survei dampak terhadap guru PPG Prajabatan yang saat ini bertugas di sekolah tersebut. Survei ini dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana kompetensi lulusan PPG Prajabatan diterapkan dalam dunia kerja nyata. Tim Direktorat PPG melakukan pengisian kuesioner dan wawancara singkat dengan guru, kepala sekolah, dan beberapa siswa SMP IT Al Farabi Bilingual School guna memperoleh gambaran menyeluruh tentang implementasi hasil pembelajaran program PPG di lingkungan sekolah. Guru yang menjadi objek survei, Indah Mayang Sari, S.Pd., Gr., merupakan alumni PPG Prajabatan dari LPTK Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG). Ia kini mengabdi sebagai pendidik di SMP IT Al Farabi Bilingual School. Melalui kegiatan ini, Direktorat PPG ingin meninjau sejauh mana empat kompetensi utama guru, yaitu pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, serta interaksi dengan peserta didik. Kunjungan ini juga menjadi sarana silaturahmi antara pihak Direktorat PPG dan sekolah, serta bentuk dukungan terhadap peningkatan profesionalisme guru muda dan penguatan kualitas pembelajaran. Kegiatan diakhiri dengan foto bersama antara tim Direktorat PPG, kepala sekolah, dan guru sebagai kenang-kenangan dari kunjungan tersebut.
Direktorat PPG Kemdikdasmen Kunjungi SMP IT Al Farabi Bilingual School
ACEH BESAR, SMP IT Al Farabi Bilingual School mendapat kehormatan menjadi sekolah yang dikunjungi oleh Direktorat Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam rangka Evaluasi Dampak Lulusan PPG terhadap mutu pembelajaran di satuan pendidikan, Rabu (12/11/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung bagaimana guru-guru lulusan PPG menerapkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian serta efektivitas program PPG dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Tim Direktorat PPG Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia langsung disambut oleh Direktur Pendidikan SMP IT Al Farabi Bilingual School, Kepala Sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Besar dan LPTK PPG Universitas Bina Bangsa Getsempena. Dalam sambutannya, Direktur Pendidikan Yayasan Syakir Daulay menyampaikan apresiasi atas kehadiran Direktorat PPG ke SMP IT Al Farabi Bilingual School yang menjadi tempat implementasi nyata kompetensi guru. “Kami merasa bangga karena SMP IT Al Farabi Bilingual School dipercaya menjadi bagian dari proses evaluasi nasional ini. Bagi kami, keberhasilan guru lulusan PPG bukan hanya soal sertifikasi, tetapi juga tentang perubahan nyata dalam karakter, kreativitas, dan kualitas pembelajaran di kelas” ujar Syakir Daulay, Direktur SMP IT Al Farabi Bilingual School Perwakilan Direktorat PPG Kemdikdasmen Andrian Wijaya menegaskan bahwa hasil kunjungan ini akan menjadi bagian penting dalam penyusunan rekomendasi kebijakan peningkatan mutu program PPG di masa mendatang. “Kami ingin memastikan bahwa lulusan PPG tidak hanya siap mengajar, tetapi juga menjadi agen perubahan di sekolah,” ungkapnya. Kegiatan yang berlangsung sekitar 2 jam ini ditutup dengan sesi diskusi dengan manajemen sekolah. Suasana berlangsung hangat dan penuh semangat untuk terus berkolaborasi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berkualitas.
SMP IT Al Farabi Bilingual School Bahas Kerjasama Pendidikan dengan Universitas Alwasliyah Darussalam Banda Aceh
Banda Aceh – SMP IT Al Farabi Bilingual School menggelar pertemuan resmi dengan Universitas Alwasliyah Darussalam Banda Aceh dalam rangka penjajakan kerjasama strategis di bidang pendidikan. Pertemuan tersebut berlangsung di Aula Rektorat Universitas Alwasliyah Darussalam Banda Aceh dengan menghadirkan jajaran pimpinan kedua institusi pada Jumat, 7/11/2025. Acara ini dihadiri oleh Rektor Universitas Alwasliyah Darussalam Banda Aceh Dr. Yusra Jamali, M.Pd dan Direktur SMP IT Al Farabi Bilingual School Syakir Daulay. Keduanya menyampaikan komitmen untuk bersama-sama memperkuat ekosistem pendidikan yang berkualitas, relevan, dan berdaya saing tinggi. Pada kesempatan tersebut, kedua lembaga sepakat bahwa kerjasama ini menjadi langkah strategis untuk memberikan layanan pendidikan yang lebih baik bagi peserta didik, khususnya dalam pengembangan kompetensi akademik, karakter, pengabdian masyarakat seperti penempatan mahasiswa PPL dan pembinaan terhadap guru. Direktur SMP IT Al Farabi Bilingual School menyambut baik peluang ini sebagai bentuk sinergi lembaga pendidikan dalam menyiapkan generasi unggul yang mampu bersaing di era global.“kami bersyukur Universitas Alwasliyah Darussalam Banda Aceh bersedia bekerjasama dengan kami sebagai lembaga pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas dan layanan pendidikan” Kata Syakir Daulay, setelah pertemuan selesai. Sementara itu, Rektor Universitas Alwasliyah Darussalam Banda Aceh menyatakan dukungan penuh dan siap bekerja sama dalam program-program yang bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di Aceh seperti pembinaan guru, siswa dan mahasiswa.“Kami menyambut baik rencana kerjasama ini dan nanti akan kita tindaklanjuti dalam bentuk penandatanganan MOU dan kegiatan kegiatan positif” Kata Dr. Yusra Jamali, M.Pd. Dengan adanya penjajakan kerjasama ini, diharapkan terjalin hubungan yang erat serta menghasilkan program kolaboratif yang memberikan dampak nyata bagi pengembangan mutu pendidikan baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi.
Perkuat Sinergi: SMP IT Al Farabi Bilingual School dan FAI UNMUHA Jalin Kerja Sama
Perkuat Sinergi: SMP IT Al Farabi Bilingual School dan FAI UNMUHA Jalin Kerja Sama Banda Aceh, 30 Oktober 2025 — SMP IT Al Farabi Bilingual School menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan menandatangani Perjanjian Kerja Sama bersama Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA). Kegiatan penandatanganan MoU berlangsung di kampus Universitas Muhammadiyah Aceh dalam suasana penuh semangat kolaborasi. Acara tersebut turut dihadiri oleh Dekan FAI UNMUHA beserta para ketua program studi, Direktur Pendidikan kepala sekolah, dan wakil kepala sekolah SMP IT Al Farabi Bilingual School, yang bersama-sama menyaksikan penandatanganan kerja sama antara kedua lembaga. Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat sinergi untuk meningkatkan Kualitas dan layanan pendidikan pada kedua lembaga. Kepala SMP IT Al Farabi Bilingual School Siti Kembang Ati, S.Pd. menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif. “Kami berharap melalui kerja sama ini, guru dan siswa SMP IT Al Farabi dapat memperoleh pendampingan akademik dan spiritual dari akademisi FAI UNMUHA, sementara mahasiswa UNMUHA juga mendapatkan pengalaman langsung di dunia pendidikan melalui program PPL dan magang di sekolah kami” Kata Siti Kembang Ati, S.Pd. Kepala SMP IT Al Farabi Bilingual School.Selain itu, Direktur Pendidikan Yayasan Komite Kemanusiaan Indonesia Aceh, Syakir Daulay menyampaikan apresiasinya kepada Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh yang sangat cepat memberikan respon positif sehingga terlaksana acara penandatanganan perjanjian kerja sama. “Saya memberikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada manajemen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh atas respon positif sehingga kerjasama ini bisa terlaksana cepat dan baik” kata Syakir Daulay, Direktur Yayasan setelah acara penandatanganan selesai. Sementara itu, Dekan Fakultas Agama Islam UNMUHA Dr. Rosnidarwati, S.Ag., M.A. menyambut baik kemitraan tersebut dan menegaskan bahwa universitas siap berkontribusi aktif dalam mendukung kegiatan pengembangan pendidikan di SMP IT Al Farabi, baik melalui pelatihan, seminar, pengabdian masyarakat, maupun penempatan mahasiswa dalam kegiatan praktik mengajar.“Insyaallah FAI Unmuha siap berkontribusi terhadap pendidikan di SMP IT Al Farabi Bilingual School dan ini menjadi langkah awal untuk melakukan hal hal kebaikan dimasa yang akan datang” kata Dr. Rosnidarwati, S.Ag., M.A. Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh. Melalui MoU ini, kedua lembaga berkomitmen untuk bersinergi dalam berbagai kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian, serta pembinaan mahasiswa calon guru yang diharapkan dapat memberikan manfaat luas bagi peserta didik dan masyarakat. Kerja sama ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat hubungan antara lembaga pendidikan Islam di Aceh serta menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk terus berinovasi dan berkolaborasi demi kemajuan pendidikan.
OSIS SMP IT Al Farabi Bilingual School Gelar Acara Puncak “Talenta Al Farabi” Diikuti 650 Peserta se-Aceh
Banda Aceh, 25 Oktober 2025 — OSIS SMP IT Al Farabi Bilingual School sukses menggelar acara puncak ajang perlombaan “Talenta Al Farabi” yang diikuti oleh 650 peserta dari berbagai sekolah TK/RA, SD/MI, hingga SMP/MTs se-Aceh. Kegiatan ini menjadi wadah untuk menyalurkan bakat, kreativitas, dan semangat berprestasi para pelajar dari seluruh Aceh. Acara puncak yang berlangsung di Taman Seni dan Budaya Banda Aceh dibuka secara resmi dengan pemukulan Rapai Pase, sebagai simbol semangat, kebersamaan, dan pelestarian budaya Aceh. Suasana semakin meriah dengan kehadiran seluruh peserta dan tamu undangan yang memenuhi area acara. Ajang Talenta Al Farabi tahun ini menghadirkan empat kategori lomba utama, yaitu: •Mewarnai tingkat TK/RA•Mewarnai SD/MI kelas 1–3•Bercerita Pahlawan SD/MI kelas 6•Pose Foto Pahlawan tingkat SMP/MTs Selain perlombaan, acara juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan dari siswa-siswi SMP IT Al Farabi Bilingual School, seperti tarian daerah, nasyid, dan musik kreatif yang menambah semangat serta keceriaan seluruh peserta dan tamu undangan. Tidak hanya berfokus pada kompetisi, kegiatan ini juga diwarnai dengan aksi sosial berupa pemberian paket sembako kepada dua orang mualaf dan dua orang marbot masjid, sebagai bentuk kepedulian dan rasa syukur atas terselenggaranya acara. Selain itu, turut dilakukan penggalangan dana untuk Palestina, yang melibatkan seluruh peserta dan panitia sebagai wujud solidaritas kemanusiaan. Kepala SMP IT Al Farabi Bilingual School, Siti Kembang Ati, S.Pd menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta, panitia, dan pihak pendukung. “Talenta Al Farabi bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi sarana untuk menumbuhkan karakter percaya diri, empati sosial, dan cinta budaya di kalangan pelajar Aceh,” ujarnya. Kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga bagi OSIS SMP IT Al Farabi yang berperan aktif sebagai panitia utama. Melalui kegiatan ini, para siswa belajar berorganisasi, bekerja sama, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dengan semangat kebersamaan. Acara ditutup dengan pengumuman pemenang serta penyerahan hadiah kepada para juara dari setiap kategori lomba. Panitia berharap Talenta Al Farabi dapat terus menjadi agenda tahunan yang tidak hanya menginspirasi generasi muda untuk berprestasi, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama dan cinta terhadap budaya bangsa.
Talenta Al Farabi 2025: Ajang Bakat, Budaya, dan Kepedulian Generasi Muda Aceh
Banda Aceh, 25 Oktober 2025 — Semarak kreativitas, budaya, dan kepedulian menyatu dalam acara puncak Talenta Al Farabi 2025 yang digelar oleh OSIS SMP IT Al Farabi Bilingual School di Taman Seni dan Budaya Banda Aceh. Kegiatan ini berhasil menarik perhatian publik dengan diikuti oleh 650 peserta dari berbagai sekolah TK/RA, SD/MI, hingga SMP/MTs se-Aceh. Acara dibuka dengan khidmat melalui pemukulan Rapai Pase yang menandai dimulainya rangkaian kegiatan puncak. Suara rapai menggema, disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta dan tamu undangan, menjadi simbol semangat kebersamaan dan pelestarian budaya Aceh. Dalam ajang tahun ini, empat kategori lomba digelar, yakni: Setiap peserta menunjukkan antusiasme luar biasa dan kreativitas tinggi, menciptakan suasana kompetisi yang sehat dan penuh inspirasi. Tak hanya lomba, para hadirin juga disuguhkan penampilan memukau dari siswa-siswi SMP IT Al Farabi Bilingual School, mulai dari tarian daerah, nasyid, hingga musik kreatif yang menambah semarak suasana. Menariknya, acara ini juga diwarnai dengan kegiatan sosial sebagai wujud nyata dari nilai-nilai kepedulian yang ditanamkan di lingkungan sekolah. Dalam momen tersebut, panitia menyerahkan paket sembako kepada dua orang mualaf dan dua orang marbot masjid, disertai penggalangan dana untuk Palestina. Aksi ini mendapat sambutan hangat dari peserta dan tamu undangan yang turut berpartisipasi dengan penuh empati. Kepala SMP IT Al Farabi Bilingual School, Siti Kembang Ati, S.Pd menyampaikan apresiasi tinggi kepada semua pihak yang berkontribusi. “Talenta Al Farabi bukan hanya ajang perlombaan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan karakter positif, percaya diri, peduli, dan cinta budaya. Kami ingin siswa tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki hati yang peka terhadap sesama,” ujarnya. Bagi OSIS SMP IT Al Farabi, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam berorganisasi dan melayani masyarakat. Mereka terlibat aktif mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga penutupan acara, membuktikan bahwa pelajar mampu menjadi motor penggerak kegiatan yang inspiratif. Acara puncak Talenta Al Farabi 2025 diakhiri dengan pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah bagi juara dari setiap kategori lomba. Kemeriahan dan makna kegiatan ini diharapkan menjadi semangat baru bagi generasi muda Aceh untuk terus berkarya, berprestasi, dan berbagi kebaikan.