• Beranda
  • Profile
  • Akademik
  • Kesiswaan
  • Prestasi
  • Berita
  • Pengumuman
  • PPDB
  • Jurnal
  • Perpustakaan
  • Beranda
  • Profile
  • Akademik
  • Kesiswaan
  • Prestasi
  • Berita
  • Pengumuman
  • PPDB
  • Jurnal
  • Perpustakaan
Kontak

Bertahan atau Tertinggal: Saatnya Pendidikan Islam Melakukan Upgrade

Opini

Bertahan atau Tertinggal: Saatnya Pendidikan Islam Melakukan Upgrade Oleh : SYAKIR DAULAY (Direktur SMP IT Al Farabi Bilingual School) Perubahan adalah sesuatu yang tidak pernah meminta izin kepada siapa pun. Ia datang perlahan, lalu bergerak semakin cepat hingga sering kali membuat banyak pihak tersadar ketika jarak ketertinggalan sudah terlalu jauh. Dunia pendidikan termasuk salah satu bidang yang paling merasakan dampak perubahan tersebut. Cara belajar, cara mengajar, sumber informasi, bahkan cara anak-anak memahami dunia mengalami perubahan yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir. Dalam situasi seperti ini, pendidikan Islam menghadapi tantangan yang tidak ringan: bagaimana menjaga nilai-nilai yang diwariskan selama ini sambil tetap mampu menjawab kebutuhan zaman.Selama bertahun-tahun, pendidikan Islam telah menjadi rumah bagi pembentukan karakter dan akhlak generasi muda. Banyak orang tua mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada sekolah Islam, madrasah, maupun pesantren karena berharap anak-anak mereka tumbuh bukan hanya dengan kecerdasan akademik, tetapi juga dengan fondasi moral yang kuat. Kepercayaan itu tidak muncul begitu saja. Pendidikan Islam telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk manusia yang memiliki adab, spiritualitas, dan kepedulian sosial.Namun keadaan hari ini berbeda dengan masa lalu. Generasi yang sedang duduk di bangku sekolah saat ini lahir dalam lingkungan yang dipenuhi teknologi. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, video singkat, dan informasi yang tersedia hanya dalam hitungan detik. Dulu seorang anak harus membuka buku untuk menemukan jawaban. Hari ini mereka cukup mengetik beberapa kata di layar telepon genggam. Perubahan tersebut tentu memengaruhi cara mereka berpikir, belajar, dan memahami sesuatu.Di tengah kondisi itu, pendidikan Islam tidak cukup hanya mengandalkan cara lama untuk menghadapi tantangan baru. Bukan karena cara lama sepenuhnya salah, tetapi karena setiap zaman memiliki kebutuhan yang berbeda. Metode yang berhasil diterapkan pada generasi sebelumnya belum tentu dapat menghasilkan dampak yang sama pada generasi saat ini. Karena itu, pendidikan Islam membutuhkan pembaruan agar tetap mampu berbicara dengan bahasa yang dipahami oleh generasi sekarang.Sayangnya, kata “upgrade” atau pembaruan kadang dipahami secara keliru. Sebagian orang menganggap bahwa pembaruan berarti meninggalkan tradisi, mengurangi nilai agama, atau mengikuti perkembangan zaman secara berlebihan. Padahal bukan itu yang dimaksud. Upgrade dalam pendidikan Islam bukanlah mengganti fondasi yang sudah kuat. Upgrade berarti memperkuat fondasi tersebut dengan cara yang lebih relevan. Nilai Islam pada dasarnya tidak pernah usang. Kejujuran tidak pernah menjadi nilai yang kedaluwarsa. Tanggung jawab tidak pernah kehilangan maknanya. Disiplin, amanah, kerja keras, dan rasa hormat kepada sesama akan tetap dibutuhkan kapan pun dan di mana pun manusia hidup. Yang berubah bukan nilainya, melainkan cara menyampaikannya kepada generasi baru.Di banyak tempat, pendidikan Islam sering kali masih dipandang sebatas tempat untuk mempelajari pelajaran agama dan menghafal berbagai materi. Padahal potensi pendidikan Islam jauh lebih besar dari itu. Pendidikan Islam seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi yang mampu memahami agama dengan baik sekaligus siap menghadapi realitas kehidupan modern.Sebagai contoh, banyak sekolah Islam saat ini memiliki program tahfiz Al-Qur’an. Program tersebut merupakan sesuatu yang sangat baik dan perlu terus dikembangkan. Namun muncul pertanyaan yang juga penting untuk dipikirkan: apakah hafalan yang dimiliki siswa berhenti hanya sampai pada kemampuan mengingat ayat? Ataukah ayat-ayat tersebut benar-benar hidup dalam cara berpikir dan perilaku mereka sehari-hari?Seseorang mungkin mampu menghafal banyak ayat tentang pentingnya menjaga waktu, tetapi masih sering menunda pekerjaan. Ada pula yang hafal ayat tentang menjaga hubungan sesama manusia, tetapi masih sulit menghargai temannya sendiri. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan mengingat, tetapi juga perlu menyentuh pemahaman dan pengamalan.Bayangkan jika pembelajaran Al-Qur’an dikembangkan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan siswa. Ketika mempelajari ayat tentang waktu, siswa diajak mengatur jadwal kegiatan mereka. Ketika mempelajari ayat tentang kebersihan, mereka diminta membuat proyek lingkungan. Ketika mempelajari ayat tentang kejujuran, mereka diajak melakukan refleksi terhadap perilaku sehari-hari. Dengan cara seperti ini, Al-Qur’an bukan hanya menjadi sesuatu yang dihafal, tetapi menjadi nilai yang tumbuh dalam kehidupan.Selain itu, pendidikan Islam juga perlu membuka ruang yang lebih luas bagi keterampilan masa depan. Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki nilai akademik tinggi. Dunia juga membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, menyelesaikan masalah, dan memahami perkembangan teknologi.Banyak pekerjaan yang ada saat ini mungkin tidak lagi sama beberapa tahun mendatang. Sebaliknya, akan muncul berbagai bidang baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Karena itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan. Pendidikan Islam memiliki kesempatan besar untuk menggabungkan keterampilan tersebut dengan nilai-nilai agama sehingga lahir generasi yang cerdas sekaligus berakhlak.Guru juga memiliki peran penting dalam proses perubahan ini. Di masa lalu, guru sering menjadi satu-satunya sumber ilmu bagi siswa. Hari ini keadaannya berbeda. Informasi dapat ditemukan hampir di mana saja. Karena itu, peran guru berkembang menjadi pembimbing, pengarah, dan teladan yang membantu siswa menggunakan informasi secara bijaksana.Pembaruan pendidikan Islam juga perlu menyentuh suasana belajar. Kelas tidak harus selalu identik dengan mendengar dan mencatat. Siswa perlu diberi kesempatan untuk berdiskusi, bertanya, melakukan eksperimen, mengembangkan ide, dan menghasilkan karya nyata. Ketika siswa terlibat secara aktif, mereka tidak hanya belajar untuk mengingat, tetapi juga belajar untuk memahami.Pada akhirnya, pendidikan Islam sebenarnya tidak sedang menghadapi persoalan antara mempertahankan nilai atau mengikuti perkembangan zaman. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Nilai agama dapat tetap berdiri kokoh, sementara cara penyampaiannya dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan generasi.Dunia akan terus bergerak, teknologi akan terus berkembang, dan perubahan akan terus terjadi. Pendidikan Islam memiliki dua pilihan: merasa cukup dengan apa yang sudah ada atau berani melakukan pembaruan tanpa kehilangan identitasnya. Sebab dalam perjalanan zaman yang terus berubah, bertahan saja sering kali tidak lagi cukup. Agar tetap memberi manfaat dan tetap menjadi pilihan, pendidikan Islam perlu terus tumbuh, memperbaiki diri, dan melakukan upgrade. Jika tidak, ketertinggalan bukan lagi kemungkinan, tetapi sesuatu yang perlahan akan menjadi kenyataan.

May 17, 2026 / 0 Comments
read more

Keputusan Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat: Benarkah Selalu Demikian?

Opini

“Keputusan Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat”: Benarkah Selalu Demikian? Oleh: SYAKIR DAULAY (Direktur SMP IT Al Farabi Bilingual School) Belakangan ini, publik ramai membicarakan polemik penjurian dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Ajang yang menjadi pintu menuju kompetisi nasional tersebut memunculkan perdebatan tentang objektivitas, transparansi, dan integritas dalam penilaian perlombaan akademik. Sebagian masyarakat mempertanyakan konsistensi keputusan juri, sementara sebagian lain memilih menerima hasil dengan alasan klasik yang sudah sangat sering terdengar dalam setiap perlombaan: “keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.”Kalimat itu sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Dalam setiap kompetisi, memang harus ada otoritas yang diberi kewenangan untuk menentukan hasil akhir agar perlombaan berjalan tertib dan tidak dipenuhi perdebatan tanpa ujung. Namun persoalannya, ungkapan tersebut sering kali dipahami secara berlebihan, seolah keputusan juri adalah sesuatu yang sepenuhnya absolut dan tidak boleh dievaluasi dalam kondisi apa pun. Akibatnya, ruang untuk klarifikasi, koreksi, bahkan transparansi menjadi tertutup.Fenomena ini sesungguhnya bukan hanya terjadi dalam satu perlombaan saja. Dalam banyak kompetisi akademik, baik tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, hingga nasional, persoalan integritas penjurian sering menjadi keluhan yang berulang. Ada peserta yang merasa dirugikan, guru pendamping yang kecewa, hingga penonton yang mempertanyakan logika penilaian. Namun semuanya seakan berhenti ketika panitia mengucapkan kalimat pamungkas itu: keputusan juri bersifat mutlak.Di sinilah kita perlu bertanya secara jujur: apakah dunia pendidikan benar-benar sedang membangun budaya sportivitas dan keadilan, atau justru sedang membiasakan peserta didik menerima ketidakjelasan atas nama aturan?Kompetisi akademik pada hakikatnya bukan sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Perlombaan adalah bagian dari proses pendidikan. Di dalamnya ada pembentukan mental, kejujuran, kedisiplinan, penghargaan terhadap usaha, dan pembelajaran tentang bagaimana menerima hasil dengan lapang dada. Akan tetapi, semua nilai luhur itu akan kehilangan makna ketika proses penilaiannya sendiri dipandang tidak transparan dan tidak objektif.Anak-anak dan remaja yang mengikuti lomba bukan hanya membawa nama sekolah. Mereka membawa harapan, semangat, dan hasil dari proses belajar yang panjang. Banyak peserta mempersiapkan diri selama berbulan-bulan. Mereka mengorbankan waktu bermain, berlatih setiap hari, bahkan menghadapi tekanan mental untuk tampil maksimal. Ketika hasil yang mereka terima terasa tidak sesuai dengan proses yang terjadi di lapangan, kekecewaan itu tidak hanya berhenti pada kekalahan. Yang lebih berbahaya adalah tumbuhnya rasa tidak percaya terhadap sistem.Kita mungkin sering menganggap persoalan seperti ini sepele. “Namanya juga lomba,” begitu kata sebagian orang. Namun dalam perspektif pendidikan karakter, pengalaman-pengalaman kecil justru sangat menentukan cara pandang generasi muda terhadap kehidupan. Jika sejak usia sekolah mereka melihat bahwa hasil bisa diperdebatkan tetapi tidak boleh dipertanyakan, maka secara perlahan mereka belajar bahwa transparansi bukan sesuatu yang penting.Lebih jauh lagi, budaya anti kritik dalam penjurian perlombaan juga dapat melahirkan mentalitas feodal dalam dunia pendidikan. Juri diposisikan seolah tidak mungkin salah, sementara peserta hanya dituntut menerima apa pun hasilnya tanpa ruang dialog. Padahal, profesionalisme bukan berarti anti evaluasi. Justru dalam sistem yang sehat, evaluasi adalah bagian dari upaya menjaga kualitas dan kepercayaan publik.Dalam dunia olahraga internasional, penggunaan teknologi seperti VAR dalam sepak bola atau challenge system dalam tenis lahir bukan karena wasit tidak dipercaya, melainkan karena manusia memiliki keterbatasan. Kesalahan bisa terjadi, dan sistem dibuat untuk meminimalisir ketidakadilan. Pertanyaannya, mengapa dunia pendidikan yang selalu berbicara tentang moral dan integritas justru sering tertinggal dalam hal transparansi?Tentu tidak semua kritik terhadap juri benar adanya. Ada juga pihak-pihak yang memang sulit menerima kekalahan dan mencari pembenaran atas hasil yang tidak sesuai harapan. Karena itu, perlombaan tetap membutuhkan aturan yang tegas. Namun ketegasan tidak boleh diartikan sebagai penolakan terhadap evaluasi. Ketika muncul polemik yang meluas dan dipertanyakan publik, penyelenggara seharusnya mampu memberikan penjelasan yang terbuka dan rasional, bukan sekadar berlindung di balik kalimat “keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.”Masalah lain yang juga perlu menjadi perhatian adalah minimnya standar profesional dalam penjurian perlombaan akademik di berbagai daerah. Banyak lomba masih mengandalkan penilaian subjektif tanpa sistem dokumentasi yang memadai. Indikator penilaian sering tidak dijelaskan secara detail kepada peserta. Mekanisme keberatan tidak tersedia. Bahkan dalam beberapa kasus, hasil penilaian tidak pernah benar-benar diperlihatkan secara terbuka. Situasi seperti inilah yang akhirnya melahirkan prasangka dan ketidakpercayaan.Padahal membangun sistem yang lebih profesional sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil. Penyelenggara dapat mulai dengan membuat indikator penilaian yang jelas dan terukur. Nilai peserta dapat ditampilkan secara terbuka. Rekaman video bisa digunakan sebagai bahan evaluasi bila terjadi sengketa. Dewan juri juga perlu diberikan pembekalan tentang etika penjurian dan komunikasi publik agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan kebingungan.Yang paling penting, kita perlu mengubah cara pandang terhadap kritik. Kritik tidak selalu berarti menyerang. Dalam banyak kasus, kritik justru lahir karena masyarakat masih peduli terhadap kualitas pendidikan. Ketika publik diam terhadap ketidakjelasan, itulah tanda yang sebenarnya berbahaya. Sebab ketidakpedulian adalah awal dari matinya integritas.Kita tentu tidak ingin generasi muda tumbuh dengan keyakinan bahwa keberhasilan ditentukan oleh faktor-faktor di luar kemampuan dan kerja keras. Pendidikan seharusnya menjadi ruang paling aman untuk menanamkan nilai keadilan. Sekolah dan kompetisi akademik mestinya menjadi tempat di mana anak-anak belajar bahwa usaha yang jujur akan dihargai secara objektif.Ironisnya, banyak perlombaan justru membawa nama besar karakter, kebangsaan, dan moralitas. Namun nilai-nilai itu terkadang hanya berhenti di slogan. Kita sibuk mengajarkan siswa tentang integritas, tetapi lupa membangun sistem yang benar-benar mencerminkan integritas itu sendiri. Kita berbicara tentang sportivitas, tetapi tidak menyediakan ruang transparansi. Kita mendidik tentang kejujuran, tetapi abai terhadap pentingnya akuntabilitas.Polemik LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat seharusnya menjadi momentum refleksi bersama, bukan sekadar tontonan viral di media sosial. Dunia pendidikan perlu belajar bahwa kepercayaan publik dibangun bukan hanya melalui hasil akhir, tetapi juga melalui proses yang adil dan terbuka. Sebab dalam pendidikan, proses sering kali jauh lebih penting daripada sekadar kemenangan.Pada akhirnya, kalimat “keputusan juri tidak bisa diganggu gugat” memang tetap diperlukan dalam sebuah kompetisi. Namun kalimat itu tidak boleh berubah menjadi alat untuk membungkam pertanyaan dan menolak evaluasi. Juri harus dihormati, tetapi integritas juga harus dijaga. Sebab jika pendidikan kehilangan integritas, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil perlombaan, melainkan masa depan karakter generasi bangsa itu sendiri.

May 12, 2026 / 0 Comments
read more

SMP IT AL FARABI BILINGUAL SCHOOL

Alamat: Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

Telp: 081168800724
Email: humas@alfarabibilingual.sch.id

  • Beranda
  • Profile
  • Akademik
  • Kesiswaan
  • Prestasi
  • Berita
  • Pengumuman
  • PPDB
  • Jurnal
  • Perpustakaan
  • Beranda
  • Profile
  • Akademik
  • Kesiswaan
  • Prestasi
  • Berita
  • Pengumuman
  • PPDB
  • Jurnal
  • Perpustakaan
Whatsapp Youtube Instagram Facebook

Whatsapp Alfarabi